Path: Top > IndonesiaDLN > Muhammadiyah > JIPTUMM > Research_Report > DPP_Research > Internal_Research > Teacher_Training_and_Education_Faculty > 2003 > Even

KADAR TESTOSTERON TIKUS PUTIH YANG DIBERI BELUNTAS (SEBAGAI ALTERNATIF KONTRASEPSI TRADISIONAL)

Heritage from JIPTUMM / 2004-09-15 11:32:36
Oleh : Dra. Rr. Eko susetyarini, M.Si, Teacher Training and Education Faculty
Dibuat : 2004-09-15, dengan 1 file

Keyword : TIKUS PUTIH
Subjek : KADAR TESTOSTERON TIKUS PUTIH YANG DIBERI BELUNTAS (SEBAGAI ALTERNATIF KONTRASEPSI TRADISIONAL)

PENDAHULUAN
Salah satu usaha yang sedang dilakukan adalah menemukan obat antifertilitas pria yang dapat diberikan per oral (Gde Nyoman Astika, 1991). Menurut Kretser (1979), obat-obatan antifertilitas pria dapat dikelompokan menjadi 3 berdasarkan aktifitasnya, yaitu : 1. mempengaruhi system hormonal yang mengatur fungsi testes, 2. Menghambat spermatogenesis dengan cara mempengaruhi secara langsung fungsi testis dan 3. mempengaruhi daya fertilisasi spermatozoa.
Pemilihan Keluarga Berencana Modern bukan tanpa masalah terutama yang berhubungan dengan cara hormonal seperti norplant, suntikan dan pil, karena dapat menimbulkan efek samping seperti : berat badan naik atau turun, perdarahan, darah tinggi, sakit kepala, mual, tidak haid dan lain-lain.
Pengguna jamu atau tumbuhan obat sebagai kontrasepsi (KB) telah lama dikenal masyarakat terutama di beberapa daerah di Indonesia. Penggunaan kontrasepsi tradisional banyak ditemukan di daerah pedesaan, yang tradisi masyarakatnya masih memegang teguh kebiasaan nenek moyang.
Dalam suevei Demografis dan Kesehatan Indonesia, 1991, pada wanita pernah kawin dan wanita berstatus kawin, 5,1% dan 5,2% tahu bahwa jamu digunakan sebagai kontrasepsi. Alasan menggunakan jamu antara lain: takut cara lain, cara lain mempunyai efek samping, pemakaian mudah dan mudah di dapat.
Salah satu tanaman yang termasuk dalam kelompok obat kontrasepsi, adalah beluntas (Pluchea indica). Beluntas biasa digunakan masyarakat untuk, menghilangkan bau badan, bau mulut, menambah nafsu makan (stomakik), gangguan pencernaan pada anak, tbc kelenjar, nyeri rematik, nyeri tulang, sakit pinggang. Daun beluntas berbau khas aromatis dan rasanya getir. Ternyata pada daun tersebut terkandung zat-zat aktif, yaitu alkaloid, flavonoid, tannin, minyak atsiri. Akar beluntas mengandung zat aktif flavonoid dan tannin. (Setiawan, 1999).
Apabila dikaitkan dengan senyawa aktif , tanaman beluntas mengandung alkaloid, flavonoid, tanin dan minyak atsiri. Flavonoid dapat menghambat enzim aromatase, yaitu enzim yang berfungsi mengkatalisi konversi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan hormon testosteron. Tingginya konsentrasi testosteron akan berefek umpan balik negatif ke hipofisis, yaitu tidak melepaskan FSH dan LH, sehingga akan menghambat spermatogenesis. Tanin kerjanya menggumpalkan sperma (Wien Winarno, 1997).

Deskripsi Alternatif :

PENDAHULUAN
Salah satu usaha yang sedang dilakukan adalah menemukan obat antifertilitas pria yang dapat diberikan per oral (Gde Nyoman Astika, 1991). Menurut Kretser (1979), obat-obatan antifertilitas pria dapat dikelompokan menjadi 3 berdasarkan aktifitasnya, yaitu : 1. mempengaruhi system hormonal yang mengatur fungsi testes, 2. Menghambat spermatogenesis dengan cara mempengaruhi secara langsung fungsi testis dan 3. mempengaruhi daya fertilisasi spermatozoa.
Pemilihan Keluarga Berencana Modern bukan tanpa masalah terutama yang berhubungan dengan cara hormonal seperti norplant, suntikan dan pil, karena dapat menimbulkan efek samping seperti : berat badan naik atau turun, perdarahan, darah tinggi, sakit kepala, mual, tidak haid dan lain-lain.
Pengguna jamu atau tumbuhan obat sebagai kontrasepsi (KB) telah lama dikenal masyarakat terutama di beberapa daerah di Indonesia. Penggunaan kontrasepsi tradisional banyak ditemukan di daerah pedesaan, yang tradisi masyarakatnya masih memegang teguh kebiasaan nenek moyang.
Dalam suevei Demografis dan Kesehatan Indonesia, 1991, pada wanita pernah kawin dan wanita berstatus kawin, 5,1% dan 5,2% tahu bahwa jamu digunakan sebagai kontrasepsi. Alasan menggunakan jamu antara lain: takut cara lain, cara lain mempunyai efek samping, pemakaian mudah dan mudah di dapat.
Salah satu tanaman yang termasuk dalam kelompok obat kontrasepsi, adalah beluntas (Pluchea indica). Beluntas biasa digunakan masyarakat untuk, menghilangkan bau badan, bau mulut, menambah nafsu makan (stomakik), gangguan pencernaan pada anak, tbc kelenjar, nyeri rematik, nyeri tulang, sakit pinggang. Daun beluntas berbau khas aromatis dan rasanya getir. Ternyata pada daun tersebut terkandung zat-zat aktif, yaitu alkaloid, flavonoid, tannin, minyak atsiri. Akar beluntas mengandung zat aktif flavonoid dan tannin. (Setiawan, 1999).
Apabila dikaitkan dengan senyawa aktif , tanaman beluntas mengandung alkaloid, flavonoid, tanin dan minyak atsiri. Flavonoid dapat menghambat enzim aromatase, yaitu enzim yang berfungsi mengkatalisi konversi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan hormon testosteron. Tingginya konsentrasi testosteron akan berefek umpan balik negatif ke hipofisis, yaitu tidak melepaskan FSH dan LH, sehingga akan menghambat spermatogenesis. Tanin kerjanya menggumpalkan sperma (Wien Winarno, 1997).

Copyrights : research centre of mum

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJIPTUMM
OrganisasiT
Nama KontakM. Nasar
AlamatJl. Raya Telogomas No. 246
KotaMalang
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon+62-341-464318 ext 151
Fax
E-mail Administratordigilib@umm.ac.id
E-mail CKOdigilib@umm.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: lemlit@jiptumm