Path: Top > D3_Final_Project > D3_Keperawatan > 2007

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.E DENGAN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER ( DHF ) DI RUANG LUQMAN RUMAH SAKIT ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG

Undergraduate Theses from JTPTUNIMUS / 2010-06-11 11:15:52
Oleh : PANCA WULANDARI GO1.2004.01730, Universitas Muhammadiyah Semarang
Dibuat : 2007-12-26, dengan 3 file

Keyword : Asuhan Keperawatan Dengue hemorrhagic fever
Url : http://digilib.unimus.ac.id

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau yang disebut demam berdarah dengue (DBD), sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1968 sampai sekarang. Sering kali menjadi penyebab kematian terutama pada anak, remaja dan dewasa (Rapengan, 1993). Tahun 1953, Quaintos dkk melaporkan kasus demam berdarah dengue di Philipina, kemudian disusul negara lain seperti Thailand dan Vietnam. Kasus demam berdarah pertama kali Indonesia dilaporkan di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968. Pada tahun-tahun selanjutnya demam berdarah cenderung meningkat (Sukana Bambang, 1994). Sampai sekarang kasus DBD diIndonesia telah mencapai 19.031 kasus dan 336 diantara para korban itu telah menimggal dunia, sedangkan penderita demam berdarah dengue di Jawa tengah khususnya kota Semarang pada Mei 2007 mengalami penurunan disbanding bulan sebelumnya. Pada bulan itu jumlah penderita Demem Berdarah tercatat 962 orang, sedangkan sebelumnya 1.936 penderita. K3endati demikian, jumlah penderita yang meninggal dunia selama periode Januari hingga Mei 2007 meningkat disbanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tanda dan gejala dan pada penyakit demam berdarah ini timbul secara mendadak berupa suhu tinggi, nyeri pada seluruh tubuh, nyeri di belakang kepala hebat, suara serak, batuk epitasis serta disuria, lemah, nafsu makan berkurang dapat juga disertai muntah. Masa tunas 3-15 hari, tetapi rata-rata 5-8 hari. Pada penyakit demam berdarah yang berkelanjutan dapat menimbulkan terjadinya Dengue Syok Syndrome (DSS), bahkan kematian demam berdarah (DBD) sangat beresiko. Maka setiap pasien yang tersangka menderita DBD perlu dirawat di rumah sakit (Effendy, 1995). Sekitar 2.5 milyar orang (2/5 penduduk dunia) mempunyai resiko untuk terkena infeksi virus dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan sub tropis pernah mengalami letusan demam dengue dan demam berdarah. Kurang lebih 500.000 kasus setiap tahun di rawat di rumah sakit dan ribuan orang diantaranya meninggal dunia (Hadinegoro, 1999). Apabila tanda dan gejala DHF menyerang pada anak-anak maka akan menyebabkan terganggunya pola tumbuh kembang anak. Kondisi tersebut akan menimbulkan perubahan baik fisik maupun perubahan terhadap lingkungan. Perubahan tersebut bisa dikarenakan adanya peningkatan permeabilitas dinding kapiler dimana akan mengakibatkan berkurangnya volume plasma sehingga akan terjadi dehidrasi dan apabila menyerang pada anak-anak akan menimbulkan tanda dan gejala seperti mukosa mulut kering, turgor kulit menurun, suhu tubuh meningkat, ubun-ubun cekung (bila masih bayi), kelopak mata cekung. Apabila penyebab tersebut tidak segera ditangani akan menimbulkan syock dan menimbulkan kecemasan, depresi dan stres pada anak sehingga menyebabkan timbulnya koping individu yang tidak efektif dimana akan memperlambat proses penyembuhan atau terapi. Mengetahui kondisi tersebut maka peran perawat sangat diperlukan baik dalam perawatan maupun dalam memperbaiki keadaan psikologis hal ini diharapkan akan mengembalikan kondisi anak akan menjadi lebih baik (sehat) sehingga pola tumbuh kembang anak menjadi normal (Rapengan, 1993). br /

Deskripsi Alternatif :

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau yang disebut demam berdarah dengue (DBD), sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1968 sampai sekarang. Sering kali menjadi penyebab kematian terutama pada anak, remaja dan dewasa (Rapengan, 1993). Tahun 1953, Quaintos dkk melaporkan kasus demam berdarah dengue di Philipina, kemudian disusul negara lain seperti Thailand dan Vietnam. Kasus demam berdarah pertama kali Indonesia dilaporkan di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968. Pada tahun-tahun selanjutnya demam berdarah cenderung meningkat (Sukana Bambang, 1994). Sampai sekarang kasus DBD diIndonesia telah mencapai 19.031 kasus dan 336 diantara para korban itu telah menimggal dunia, sedangkan penderita demam berdarah dengue di Jawa tengah khususnya kota Semarang pada Mei 2007 mengalami penurunan disbanding bulan sebelumnya. Pada bulan itu jumlah penderita Demem Berdarah tercatat 962 orang, sedangkan sebelumnya 1.936 penderita. K3endati demikian, jumlah penderita yang meninggal dunia selama periode Januari hingga Mei 2007 meningkat disbanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tanda dan gejala dan pada penyakit demam berdarah ini timbul secara mendadak berupa suhu tinggi, nyeri pada seluruh tubuh, nyeri di belakang kepala hebat, suara serak, batuk epitasis serta disuria, lemah, nafsu makan berkurang dapat juga disertai muntah. Masa tunas 3-15 hari, tetapi rata-rata 5-8 hari. Pada penyakit demam berdarah yang berkelanjutan dapat menimbulkan terjadinya Dengue Syok Syndrome (DSS), bahkan kematian demam berdarah (DBD) sangat beresiko. Maka setiap pasien yang tersangka menderita DBD perlu dirawat di rumah sakit (Effendy, 1995). Sekitar 2.5 milyar orang (2/5 penduduk dunia) mempunyai resiko untuk terkena infeksi virus dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan sub tropis pernah mengalami letusan demam dengue dan demam berdarah. Kurang lebih 500.000 kasus setiap tahun di rawat di rumah sakit dan ribuan orang diantaranya meninggal dunia (Hadinegoro, 1999). Apabila tanda dan gejala DHF menyerang pada anak-anak maka akan menyebabkan terganggunya pola tumbuh kembang anak. Kondisi tersebut akan menimbulkan perubahan baik fisik maupun perubahan terhadap lingkungan. Perubahan tersebut bisa dikarenakan adanya peningkatan permeabilitas dinding kapiler dimana akan mengakibatkan berkurangnya volume plasma sehingga akan terjadi dehidrasi dan apabila menyerang pada anak-anak akan menimbulkan tanda dan gejala seperti mukosa mulut kering, turgor kulit menurun, suhu tubuh meningkat, ubun-ubun cekung (bila masih bayi), kelopak mata cekung. Apabila penyebab tersebut tidak segera ditangani akan menimbulkan syock dan menimbulkan kecemasan, depresi dan stres pada anak sehingga menyebabkan timbulnya koping individu yang tidak efektif dimana akan memperlambat proses penyembuhan atau terapi. Mengetahui kondisi tersebut maka peran perawat sangat diperlukan baik dalam perawatan maupun dalam memperbaiki keadaan psikologis hal ini diharapkan akan mengembalikan kondisi anak akan menjadi lebih baik (sehat) sehingga pola tumbuh kembang anak menjadi normal (Rapengan, 1993). br /

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJTPTUNIMUS
OrganisasiUniversitas Muhammadiyah Semarang
Nama KontakDevi Pangastuti
AlamatJl.Kedung Mundu 18
KotaSemarang
DaerahJawa Tengah
Negaraindonesia
Telepon+62-24-76740296
Fax024-76740291
E-mail Administratortik@unimus.ac.id
E-mail CKOinfopus@unimus.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Ns. Tri Nur Hidayati, S.kep, Editor:

Download...